Rekor Ekspor Mobil Indonesia Menjadi Penyelamat Sektor Otomotif Saat Pasar Domestik Lesu
JAKARTA - Industri otomotif nasional tengah menghadapi situasi yang kontradiktif pada awal tahun 2026 ini. Di satu sisi, daya beli masyarakat di dalam negeri belum sepenuhnya pulih, namun di sisi lain, produk otomotif buatan Indonesia justru semakin diminati oleh pasar mancanegara.
Kinerja ekspor kendaraan roda empat Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, di tengah pelemahan pasar domestik dan penurunan produksi di sejumlah segmen, termasuk kendaraan komersial seperti truk.
Kondisi ini menjadi bukti bahwa kualitas manufaktur otomotif tanah air telah memenuhi standar global. Ketika permintaan di garasi-garasi rumah tangga Indonesia menurun, pesanan dari luar negeri justru mengalir deras, menjadikan sektor ekspor sebagai "juru selamat" yang menjaga keberlangsungan jalur produksi di pabrik-pabrik besar.
Lonjakan ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia semakin kokoh sebagai salah satu basis produksi otomotif terpenting di kawasan Asia Tenggara.
Capaian Ekspor CBU Mencetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah Otomotif
Ketangguhan industri otomotif Indonesia terlihat jelas dalam data yang dirilis oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
Pengiriman mobil utuh atau completely built up (CBU) mencapai 518.212 unit sepanjang 2025. Angka ini naik 9,7% secara tahunan (year on year/YoY) sekaligus menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah ekspor mobil Indonesia. Pencapaian ini menjadi prestasi luar biasa di tengah berbagai tantangan ekonomi yang membayangi industri manufaktur.
Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyampaikan bahwa capaian ekspor tersebut menjadi penopang penting bagi industri otomotif nasional ketika penjualan dalam negeri belum kembali ke level normal.
“Biasanya kita jualan bisa di atas 1 juta unit, sekarang kita hanya di kisaran 800 ribuan. Kemarin alhamdulillah tembus 803 ribu unit. Tapi yang menarik adalah ekspor yang juga tembus all time high 518.000 unit,” ujar Kukuh kepada media. Meskipun volume pasar domestik menyusut, lonjakan pengiriman luar negeri berhasil menjaga keseimbangan beban operasional perusahaan.
Dominasi Pabrikan Jepang Dan Penetrasi Kuat Merek Korea Selatan
Pasar ekspor Indonesia masih menjadi arena bermain utama bagi produsen-produsen besar global yang memiliki basis produksi di tanah air. Dari sisi produsen, ekspor CBU masih didominasi pabrikan asal Jepang. Toyota memimpin dengan pengiriman 175.446 unit atau setara 33,9% dari total ekspor mobil Indonesia.
Posisi berikutnya ditempati Daihatsu dengan 124.848 unit (24,1%) dan Mitsubishi Motors sebanyak 105.079 unit (20,3%). Dominasi trio Jepang ini memperlihatkan kepercayaan pasar internasional terhadap durabilitas produk rakitan Indonesia.
Namun, persaingan kini semakin berwarna dengan agresivitas pabrikan asal Korea Selatan. Hyundai berada di peringkat selanjutnya dengan ekspor 54.175 unit, disusul Suzuki 30.636 unit dan Honda 17.126 unit.
Keragaman merek yang melakukan ekspor menunjukkan bahwa ekosistem otomotif Indonesia semakin kompetitif di tingkat dunia. Kukuh mengakui bahwa penurunan produksi memang terjadi di hampir seluruh segmen, termasuk kendaraan komersial, namun peningkatan ekspor menjadi sinyal positif atas daya saing yang tetap terjaga.
Pertumbuhan Eksponensial Ekspor CKD Dan Kontribusi Besar Mitsubishi Motors
Selain pengiriman mobil dalam kondisi utuh, Indonesia juga mencatatkan hasil gemilang dalam pengiriman kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knocked down (CKD). Sepanjang 2025, ekspor CKD mencapai 63.263 unit, melonjak 36,6% dibandingkan realisasi 46.311 unit pada 2024.
Peningkatan dua digit ini mengindikasikan bahwa banyak negara tujuan ekspor yang mulai merakit kembali komponen dari Indonesia di pabrik lokal mereka masing-masing.
Mitsubishi Motors menjadi kontributor terbesar ekspor CKD dengan pengiriman 48.157 unit atau sekitar 76% dari total ekspor CKD. Selanjutnya Hyundai mencatat 8.522 unit dan Suzuki 5.852 unit. Di sisi lain, potret berbeda terlihat pada sektor komponen.
Berbeda dengan kinerja CBU dan CKD, ekspor komponen otomotif justru mengalami penurunan. Sepanjang 2025, ekspor komponen tercatat sebesar 141,9 juta potong, turun 7,3% dibandingkan 153 juta potong pada 2024. Mayoritas ekspor komponen ini masih disuplai oleh Toyota dengan kontribusi lebih dari 90%, diikuti Honda dan Hino.
Sinergi Pemerintah Dan Industri Dalam Memperluas Akses Pasar Global
Keberhasilan menembus angka ekspor tertinggi sepanjang sejarah tidak terjadi secara kebetulan. Hal ini merupakan buah dari kerja keras sinergi antara pelaku industri dan pemerintah melalui berbagai kementerian dalam membuka akses pasar baru bagi kendaraan buatan Indonesia.
Fokus perluasan pasar kini mulai melirik wilayah-wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tinggi, seperti Amerika Latin dan Timur Tengah.
“Kita syukuri saja bahwa ekspor meningkat, all time high. Kita terus kerja keras semua pihak, baik pelaku maupun pemerintah, misalnya dengan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan. Kita ingin ekspor ke Meksiko lebih baik, ke Timur Tengah juga,” kata Kukuh.
Gaikindo menilai tren ekspor yang terus meningkat menjadi bantalan penting bagi industri otomotif nasional di tengah perlambatan permintaan domestik. Dengan penetrasi pasar yang semakin luas serta diversifikasi negara tujuan, ekspor diharapkan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan industri otomotif Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Harapan Baru Di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Domestik
Kesimpulan dari kinerja otomotif tahun 2025 menunjukkan bahwa meskipun pasar lokal sedang lesu, kepercayaan dunia terhadap mobil "Made in Indonesia" sedang berada di titik puncaknya.
Jika pasar domestik bisa segera pulih dan bersinergi dengan performa ekspor yang gemilang, maka sektor otomotif Indonesia berpotensi besar untuk melampaui level normal penjualan sebelum pandemi atau krisis global terjadi.